@PWILS Gresik -- Syekh Siti Jenar merupakan sosok seperti halnya Mansur Al-Halaj. Banyak pembahasan tentang Syeh Siti Jenar yang telah ditulis melalui cerita-cerita sejarah dalam buku maupun artikel online. Buku yang menceritakan Syekh Siti Jenar tersebut tentu mewarnai referensi-referensi dan materi diskusi hal demikian karena kontroversi dan gerakan sosial yang dia lakukan. Aspek pemikiran lain tentang gerakan sosial ini sebagian gagasannya mempunyai kecenderungan mirip dengan beberapa gagasan yang ditawarkan oleh Walisongo. Menurut catatan, Sunan Bonang, Sunan Giri, bahkan Sunan Kalijogo Itu ajaran-ajarannya juga mempunyai kecenderungan mirip jika ditelaah secara serius, hanya saja mungkin ada beberapa poin-poin dalam kesepakatan para wali kemudian menghasilkan kesimpulan bahwa Syekh Siti Jenar yang digambarkan seperti Al Halaj tanah Jawa tersebut melakukan kesalahan karena telah membongkar rahasia yang harusnya untuk orang-orang khawas disampaikan begitu saja pada masyarakat.
Catatan tentang Syekh Siti Jenar diklasifikasikan sebagai para penyebar Islam di Indonesia yang berasal dari Gujarat India dengan corak Islam agak cenderung Persian Syiah. Kalau dirunut dari sejarah seorang Mursyid Thariqoh di Gujarat yakni Thareqat Sathariah yang bernama Syekh Abdullah Khanudin dari namanya terdapat nama "Khan" yang dikenal oleh masyarakat berbau India. Syekh Abdullah Khanudin ini mempunyai putra dua yakni Syekh Ahmad Jalal Syah dan Syekh Abdul Qadir. Syekh Ahmad Jalal syah ini kemudian mempunyai putra Syekh Jamaludin jalal syah. Syekh Jamaludin ini mengembara sampai ke Indonesia kemudian di Indonesia dikenal dengan nama Syekh Jumadil Kubro sedangkan dari Syekh Abdul Qadir akan lahir Syekh Siti Jenar namanya San Ali.
San Ali atau Hasan bin Ali yang nanti dikenal dengan Syekh Siti Jenar merupakan putra dari Syekh Datuk Saleh. Datuk Saleh punya saudara bernama Syekh Datuk Ahmad, sementara yang dari Syekh Jamaluddin Syah yang dikenal dengan Syekh Jumadil Kubro mempunyai anak bernama Syekh Samarkondi atau Ibrahim Samarkondi, Ibrahim Samarkondi menikah dengan putri dari Pasai mempunyai putra Maulana Ishaq yang nanti menurunkan Sunan Giri, sedangkan istri dari campa mempunyai putra Syekh Ali Murtadlo dan Syekh Ali Rahmat. Syekh Ali Rahmat dikenal sebagai Sunan Ampel sementara Syekh Ali Murtadho mempunyai Putra Ssman Haji yang dikenal sebagai Sunan ngundung Dan dari situ nanti lahir Ja'far Shodiq Sunan kudus dan dari Syekh Ali Rahmat Tadi nanti lahir putranya Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan menantu yaitu Sunan Muria yang putra dari Sunan Kalijogo yang merupakan keturunan Raja Majapahit terakhir Brawijaya pamungkas kertabumi trah Islam pedalaman.
Ada banyak sekali mitos-mitos tentang Syekh Siti Jenar mulai dia berasal dari cacing, diceritakan dalam suatu riwayat bahwa Sunan Bonang ini ingin menurunkan ilmu rahasia Pada Sunan Kalijogo terus dia ke tengah danau naik perahu dikarenakan ajarannya tidak boleh didengar siapapun. Kebetulan yang mendengar itu cacing, cacing inilah nanti berubah jadi Syekh Siti Jenar. Ada banyak cerita-cerita aneh seputar Syekh Siti Jenar, kenapa cerita-cerita mitos semacam itu muncul. Sebagian tokoh mengatakan bahwa Al-Halaj itu sebenarnya tereksekusi karena faktor politik.
Nama yang paling Mashur adalah Siti Jenar, pada masa kecil disebut San Ali atau ada yang menyebut nama aslinya KH. Ali Asori, nama lainnya adalah Syekh Abdul Jalil, nama ini diperoleh ketika ikut dakwah di Malaka. Selain nama-nama yang disebutkan diatas, Syekh Siti Jenar mempunyai nama lain lagi yakni syekh Joboronto (Jaboranto) itu ketika dakwah di Palembang. Syekh Siti Jenar menyebarkan agama islam di Jawa Barat dikenal dengan sebutan Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang, sebutan ini dilekatkan kepada Syekh Siti Jenar karena filosofi yang dikembangkan adalah nasut dan lahutnya gaya Al-Halaj, bahwa jasad itu tidak ada nilainya, jasad hanya sekedar tanah, manusia berharga bukan karena jasadnya, bukan karena kulit daging, dan fisik, tapi karena ruhnya, dimana ruh itu merupakan pancaran ketuhanan di muka bumi. Ajaran inilah kemudian disampaikan kepada murid-muridnya.
Banyak gelar yang disematkan kepada Syekh Siti Jenar seperti Syekh Nurjati atau Pangeran Panjunan atau kadang juga disebut Sunan Sasmito tertuang di Babat Cirebon. Versi lain disebutkan dengan Syekh Siti Bang, Syekh Siti Brit, Syekh Siti Luhung. Naskah-naskah Jawa Tengah seperti R. Ngabei Ronggowarsito menyebutnya Sunan Kajenar, Syekh Wali lanang sejati. Namun istilah Syekh Wali Lanang ini dianggap rancu karena Syekh Wali lanang dinisbatkan pada Maulana Ishak ayah dari Sunan Giri, akan tetapi spesifik untuk Syekh Siti Jenar adalah Syekh Wali Lanang sejati. Nama lainnya lagi yakni Syekh Jati Mulyo, dan Syekh Sunyoto Jati Murti susunan ing Lemah Abang gelar yang panjang.
Selama belajar Syeh Siti Jenar berdiskusi dengan para rohaniawan dari agama-agama lain seperti Hindu, Budha dengan empat ajaran yang nantinya berpengaruh pada Syekh Siti Jenar yaitu empat laku utama sufi yang pertama adalah nisfra lenyapnya keinginan, nirhana lenyapnya keterikatan dengan yang jasmaniah, Niskala (fana), fana itu bersatu dengan yang tidak terbatas dan yang terakhir niras raya, niras raya itu fana fil fana puncak dari lenyap, kalau fana itu hilangnya ego dan bersatu dengan Tuhan, fana fil fana itu sudah tidak bisa dibahas, tidak bisa dibahasakan lagi, dan tidak bisa dijelaskan. Makna bersatu masih bisa dijelaskan ana Al-Haq (Akulah kebenaran), masih bisa diucapkan dengan kata-kata, fana tapi masih bisa berbicara akalnya masih jalan, tapi fana fil fana itu sudah Wallahu A’lam.
Wallahu A’lam Bi Showab
Penyadur : @Syaf
Sumber : Ngaji Filsafat Dr. Fahruddin Faiz.