PWILS Gresik -- Tepat pada tanggal 7 April 2025 Pondok Pesantren Hidayatus Salam mengadakan Haul KH. Sirojul Munir (22 th) Ny. Hj. Fatimah (31 th) dan Halal Bihalal Keluarga Besar Pondok Pesantren tersebut yang terletak Desa Lowayu Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik. Perlu diketahui bahwa Pondok Pesantren Hidayatus Salam merupakan Pondok Pesantren tertua di Desa Tersebut dan pengasuh pertamanya adalah KH. Sirojul Munir. Kiprah KH. Sirojul Munir sangat produktif melalui dakwah pesantren dimana banyak penduduk sekitar yang mempercayakan putra-putrinya dididik di Pondok Pesantren Tersebut. Pondok Pesantren Hidayatus Salam terus berkembang dimana tongkat kepemimpinan diteruskan oleh anak dan menantunya begitu juga pengajaran kitab-kitab pesantren diteruskan oleh anak dan menantu beliau serta para ustadz dan ustadzah yang kompeten di bidangnya.
Pada kegiatan Haul dan Halal Bihalal tersebut Pihak Keluarga Pondok Pesantren Mengundang Habib Jamal bin Toha Ba'agil. Seorang Ba'alwi yang dimana klan tersebut mengaku sebagai keturunan Rosulullah SAW. Suatu pengakuan yang diduga mempunyai maksud lain dalam mempengaruhi secara spiritual dalam khazanah islam di Indonesia, terutama di kalangan Nahdhiyin. Karena organisasi lain seperti Muhammadiyah jelas berpandangan berbeda kepada mereka bahwa mereka bukanlah keturunan Nabi Muhammad SAW.
Adanya perubahan pemikiran oleh kaum Muslimin terkait pengakuan mereka mencatut Nama Nabi Muhammad SAW yang diklaim sebagai datuknya, menjadikan intelektual Muslim lain mencari dasar baik secara Nasab, sejarah, biologi molekuler, dan filologi. Menurut KH. Imaduddin Ustman Al-Bantani, bahwa pengakuan mereka sebagai Cucu Nabi Muhammad SAW tidak terkonfirmasi melalui Kitab Nasab dan sejarah, berdasarkan DNA (Biologi Molekuler) mereka berhaplogroup G yang mustahil merupakan keturunan Nabi Ibrahim hal itu disampaikan oleh Dr. Sugeng Sugiharto (BRIN) dalam berbagai tulisan dan konten beliau di youtube, dan tidak pula terkonfirmasi secara Filologi hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Menachem Ali seorang peneliti dari UNAIR Surabaya.
Pengakuan mereka (Ba'alawi) sebagai cucu nabi gagal secara ilmiah dalam berbagai bidang ilmu sehingga dapat dipastikan bahwa mereka tidak terkonfirmasi sebagai nasab yang tersambung kepada Rosulullah SAW, kondisi ini sebagian menjawab kenyataan jika dihubungkan dengan adab dan akhlak mereka yang seringkali bertolak belakang dengan akhlak dan adab islam, mereka seringkali mengunjungi kiai-kiai kampung setiap periode tertentu dalam rangka untuk meminta duit (dawir), pengubahan sejarah oleh klan mereka (Pangeran Diponegoro, Sumodiningrat, dan tokoh lainnya), pengubahan nama-nama nisan pemakaman yang diba'alwikan yang dimungkinkan jumlahnya sangat fantastis lebih dari 1000-3000 makam termasuk 1 makam yang ada di Desa Lowayu itu sendiri yakni SYEH ALWI Al-KAFF yang dahulunya adalah MBAH AHMAD SAWAHAN. Pengubahan nama makam dan nisan tersebut berlindung di bawah bendera PETANESIA besutan HABIB LUTFI BIN YAHYA.
Memproklamirkan cucu Nabi tetapi tidak sejalan dengan akhlak dan adab Islam membuat kebanyakan kaum muslimin bertanya, apakah benar mereka cucu nabi ? kenapa mereka berupaya melakukan pengubahan sejarah ?, suatu realita yang memprihatinkan bahwa pengubahan tokoh sejarah dan nisan/makam leluhur nusantara bisa kita lihat beritanya bertebaran di berbagai media youtube dan tindakan kejahahatan demikian tidak ada satupun teguran diantara kelompok mereka termasuk dari Robithoh Alawiyah yang seolah diam Seribu Bahasa, hal ini menandakan bahwa mereka satu suara dalam membangun glorifikasi keturunan mereka dalam upaya melakukan penjajahan secara spiritual terhadap kaum muslimin di Indonesia terutama kaum Nahdhiyin. Menebar pengaruh pengakuan cucu Nabi kepada warga pribumi Nahdhiyin sehingga warga muslimin permisif atas i'tikad kejahatan itu dalam bentuk sabotase sejarah dan yang berkaitan dengan kebesaran suatu negara termasuk nama tokoh-tokoh bangsa masa lalu yang dirubah seenaknya, jika hal ini demikian dibiarkan saja, pastinya suatu saat anak cucu kita hanya mengetahui bahwa yang berjasa membesarkan dan memerdekakan Indonesia adalah Kaum Ba'alwi yang demikian ini jarang disadari Oleh Muhibbin bahkan mengamini kejahatan mereka dalam upaya mengubah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui intrik-intrik kejahatan. Akhlak dan adab yang tidak sejalan dengan Akhlak Islam itulah yang semakin menjawab bahwa memang mereka bukan Keturunan Rosulullah SAW, hal demikian karena tidak terkonfirmasi melalui kitab nasab, sejarah, ilmu DNA (biologi molekuler), dan Filologi, sehingga wajar saja kelompok tersebut jauh panggang perilakunya sebagaimana keindahan Akhlak islam.
Sebagai upaya untuk meningkatkan Kepahaman tentang Nasab-Nasab Ba'alwi kita dapat mendengarkan Ceramah KH. Marzuki Mustamar (LINK), Podcast dari Akbar Faizal Uncencored dengan KH. Said Aqil Siraj (LINK).
Adanya keinginan kuat oleh Kaum Muslimin dalam mengembalikan sejarah, mengembalikan nisan/makam yang dipalsukan, mengembalikan nama-nama tokoh yang diba'alwikan. Menjaga aqidah Islam yang sebagian muslimin digiring kepada Keyakinan Bahwa Datuk mereka yang disebut Faqihil Muqoddam Isro' Mi'roj 70x melebihi Nabi Muhammad SAW yang hanya 1 kali seumur hidup. Sehingga dari beberapa pertimbangan tersebut, kami sebagian kaum muslimin yang ingin mengembalikan perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Ba'alwi merasa kaget dan keberatan serta kecewa, bahwa Yayasan Pondok Pesantren Hidayatus Salam mendatangkan seorang Habib yang dimana secara Paralel kita menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.