Kitab Al-Tarikh al-Hadramiyah, yang ditulis oleh Syekh Abdurrahman bin Abdullah bin Imad al-Jaufi al-Hadrami pada abad ke-18, merupakan salah satu karya sejarah yang paling kontroversial. Kitab ini dianggap sebagai "hantu" yang menghantui klan Ba'alwi, sebuah kelompok genealogis yang terkenal di Hadramaut dan berbagai wilayah lain. Dengan isi yang sangat kritis, kitab ini menyibak sisi gelap klan Ba'alwi, mulai dari klaim keabsahan nasab hingga keterlibatan mereka dalam politik dan praktik keagamaan yang dianggap menyimpang. Tidak heran, keberadaan kitab ini sangat langka dan menjadi objek yang sulit didapatkan oleh para peneliti.
Syekh Abdurrahman bin Abdullah bin Imad al-Jaufi al-Hadrami adalah seorang sejarawan ternama yang wafat pada tahun 1733 M. Sebagai seorang ulama dan sejarawan, ia memiliki kredibilitas yang diakui pada zamannya. Kitab Al-Tarikh al-Hadramiyah, yang terdiri dari dua jilid, pertama kali diterbitkan pada tahun 1759. Karya ini mencerminkan pandangan kritis terhadap klan Ba'alwi, yang pada waktu itu memegang pengaruh besar di Hadramaut, baik dalam bidang agama maupun politik.
Sebagian pihak menyebutkan bahwa Syekh Abdurrahman sendiri mungkin memiliki hubungan dengan klan Ba'alwi. Namun, klaim ini masih menjadi perdebatan karena kurangnya bukti yang mendukung. Terlepas dari latar belakang penulis, kitab ini menjadi sumber penting yang mengupas berbagai kontroversi seputar klan Ba'alwi.
Kitab Al-Tarikh al-Hadramiyah memuat sejumlah kritik tajam terhadap klan Baalawi. Beberapa poin penting yang diangkat dalam kitab ini meliputi:
- Pemalsuan Nasab Salah satu isu utama yang diungkap Syekh Abdurrahman adalah keabsahan nasab klan Ba'alwi. Ia mempertanyakan klaim bahwa Ahmad al-Muhajir, yang dianggap sebagai leluhur klan Ba'alwi, merupakan keturunan langsung dari Imam Ja'far al-Shadiq. Menurutnya, tidak ada bukti kuat yang mendukung klaim tersebut dalam sumber-sumber sejarah awal. Bahkan, ia menyebut bahwa proses pencatatan nasab klan ini sering kali kurang transparan dan dipenuhi dengan manipulasi.
- Praktik Keagamaan yang Menyimpang Kitab ini juga mengkritik tradisi keagamaan klan Baalawi, seperti penghormatan berlebihan terhadap makam leluhur mereka. Penulis menggambarkan bagaimana makam-makam tersebut dihias dengan kain berwarna-warni dan bunga-bunga, serta menjadi tempat permohonan bagi berbagai kebutuhan hidup. Praktik ini dianggap menyimpang dari ajaran Islam yang murni.
- Keterlibatan dalam Politik Syekh Abdurrahman juga menyoroti keterlibatan klan Baalawi dalam manuver politik, termasuk peran mereka dalam mendatangkan kolonial Inggris ke Hadramaut. Ia menyebutkan bahwa klan ini memiliki hubungan erat dengan pihak kolonial untuk mempertahankan pengaruh dan kekuasaan mereka. Hal ini menjadi salah satu isu yang sangat sensitif, mengingat pengaruh kolonial sering kali membawa dampak buruk bagi masyarakat lokal.
Kitab Al-Tarikh al-Hadramiyah kini sangat langka, dan banyak yang percaya bahwa kelangkaan ini disengaja untuk menjaga reputasi klan Baalawi. Upaya untuk mendapatkan salinan kitab ini sering kali berakhir dengan kegagalan. Namun, di era digital, diskusi mengenai isi kitab ini kembali mencuat, terutama melalui media sosial dan forum daring.
Dampak sosial dari kitab ini cukup signifikan. Kritik yang tajam terhadap klan Baalawi mengguncang kepercayaan masyarakat terhadap narasi sejarah dan genealogis yang selama ini dibangun oleh klan tersebut. Hal ini juga memicu perdebatan di kalangan ulama dan akademisi, yang berusaha untuk meneliti lebih lanjut klaim-klaim yang diangkat oleh Syekh Abdurrahman.
Kitab ini tidak hanya menjadi simbol perjuangan melawan narasi yang dianggap tidak sesuai dengan fakta, tetapi juga menjadi bukti konflik internal dalam sejarah Islam. Klan Baalawi, yang selama berabad-abad dianggap sebagai kelompok elit dalam komunitas Islam, harus menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan legitimasi mereka.
Syekh Abdurrahman menulis kitab ini bukan untuk menghancurkan klan Baalawi, melainkan untuk memberikan refleksi kritis terhadap konflik dan perdebatan yang terjadi pada masanya. Namun, di mata klan Baalawi, kitab ini menjadi ancaman besar yang dapat meruntuhkan kredibilitas mereka. Hingga saat ini, kitab Al-Tarikh al-Hadramiyah tetap menjadi topik yang kontroversial dan relevan dalam diskusi sejarah dan politik Islam.
Kitab Al-Tarikh al-Hadramiyah adalah sebuah karya yang penting dalam memahami dinamika sejarah dan konflik internal di Hadramaut. Dengan kritik yang tajam dan data yang mendalam, kitab ini tidak hanya menyajikan pandangan kritis terhadap klan Baalawi, tetapi juga mengajarkan pentingnya transparansi dan kejujuran dalam mencatat sejarah. Seiring berkembangnya era digital, karya ini berpotensi untuk terus menjadi bahan diskusi yang relevan, memberikan wawasan baru bagi generasi mendatang tentang kompleksitas sejarah Islam dan peran klan-klan besar di dalamnya.
Penulis : @Syaif