@PWILS Gresik -- Pemerintah Belanda telah mengembalikan 288 artefak yang dicuri dari Indonesia selama masa kolonial, termasuk senjata, koin, perhiasan, dan tekstil, menurut tulisan Julia Binswanger. Eppo Bruins, menteri pendidikan, budaya, dan sains Belanda, menyatakan kepada Dutch News bahwa "benda-benda budaya ini seharusnya tidak pernah berada di sini." Pada masa kolonial, benda-benda budaya ini telah dijarah dan hilang. Keadilan adalah mengembalikan artefak ini.

Pada 20 September 2024, upacara di Museum Dunia di Amsterdam menandai pemulangan artefak yang dicuri oleh Belanda ke bekas koloninya. Ini adalah pemulangan kedua sejak laporan yang direkomendasikan oleh Komite Koleksi Kolonial independen pada tahun 2020. Pemerintah Belanda mengembalikan barang pertama, 478 barang, ke Indonesia dan Sri Lanka pada Juli 2023.

Koleksi artefak yang baru dikembalikan termasuk empat patung Hindu-Buddha. Salah satunya dibawa dari Jawa Timur ke Belanda pada tahun 1843 atas perintah seorang administrator kolonial. Tiga patung lainnya, yang menggambarkan dewa Bhairava, Nandi, dan Brahma, dibawa dari kompleks candi Singasari di Jawa Timur pada pertengahan abad ke-19.

Tetapi setelah perang tahun 1906 di Bali Selatan, di mana militer Belanda menyerang kerajaan Badung dan Tabanan, sebagian besar barang yang dipulangkan tiba di Belanda. Catherine Hickley dari Art Newspaper menulis, "Sekitar 1.000 orang Bali tewas, sementara Belanda kehilangan empat orang." Seminggu kemudian, di Kerajaan Tabanan, tentara Belanda menyerang istana dan menangkap raja, yang bersama dengan putra mahkota, [meninggal] bunuh diri malam itu."

Pengembalian artefak ini tidak hanya menegaskan pentingnya keadilan material, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian warisan budaya Indonesia bagi generasi mendatang. Pemerintah Indonesia telah secara resmi meminta pengembalian benda-benda budaya ini, yang dikenal sebagai Koleksi Puputan Badung.

Dengan langkah ini, diharapkan akan ada lebih banyak kerja sama antara negara-negara dalam menjaga dan menghormati warisan budaya masing-masing.

Ditulis Oleh : @Syaf