@PWILS Gresik -- Setelah Part 1 yang membahas tentang Pengertian Walisongo, pada bagian ini kita mengawali dengan membahas tokoh Walisongo yakni Syekh Maulana Malik Ibrahim sebagai wali pertama dan tertua, Siapakah sebenarnya Syekh Maulana Malik Ibrahim itu dan dari manakah asal-usul beliau. Sebelum membahas lebih jauh ada baiknya kita juga mengenal nama lain dari Syekh Maulana Malik Ibrahim, selain dikenal sebagai Sunan Gresik beliau juga dikenal masyarakat sebagai Sunan Tandes atau Mursyid Akbar Thoriqoh Walisongo sebutan lain dikenal sebagai Kakek Bantal, Selain itu beliau juga dikenal sebagai Maulana Maghribi karena beliau diduga berasal dari wilayah Maghribi sebuah sebutan wilayah ujung barat Afrika Utara atau sekarang yang dikenal sebagai negara Maroko. Asal-usul beliau hingga kini masih menimbulkan perbedaan pendapat. Sebagian pendapat mengatakan beliau berasal dari Turki sebagai ahli tata negara dan sebagian pendapat lain menyatakan beliau berasal dari kashan sebuah tempat di Persia Iran sebagaimana tercatat pada prasasti makamnya namun dalam dokumen babad ing Gresik disebutkan beliau datang bersama kawan-kawan dekatnya di pulau Jawa dan berlabu di Gresik tahun 1293, disebut juga tahun 1371 Masehi dalam dokumen tersebut bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim merupakan keturunan Ali Zainal Abidin cicit Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Catatan dalam dokumen itu sesuai dengan kumpulan catatan yang dibukukan dalam ensiklopedia nasab Ahlul Bait bahwa disebutkan beliau merupakan keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam namun dalam referensi lain bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim disebut merupakan Putra ulama besar bernama Syekh Jamaludin Jumadil kubra, beliau disebut berasal dari samarkan Uzbekistan sebagai Syekh Asmorokondi. Dasar inilah yang kemudian digunakan sebagian sejarawan menyebutkan kalau Syekh Maulana Malik Ibrahim merupakan orang tua dari Sunan Ampel padahal ayah dari Sunan Ampel itu adalah Ibrahim Asmoroqondi menurut sejarawan Islam Rizal yang dimuat dalam Harian Republik menyebutkan bahwa nama Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Ibrahim Asmorokondi merupakan dua nama orang berbeda meski keduanya sama-sama memiliki nama Ibrahim

Syekh Maulana Malik Ibrahim merupakan Wali pertama Walisongo sedangkan Ibrahim Asmorokondi merupakan Putra Syekh Jumadil Kubro. Syekh Maulana Malik Ibrahim datang ke pulau Jawa tahun 1404 Masehi dan wafat di Gresik tahun 1419 masehi sementara Syekh Ibrahim Asmorokondi baru datang ke Jawa di pertengahan tahun 1440-an masehi dan dimakamkan di Tuban. Dalam perkembangannya, Ibrahim Asmoro memiliki Putra bernama Sunan Ampel. Ibrahim mendapat tambahan nama Asmoro Kondi karena dianggap berasal dari wilayah samarkan, orang Jawa kesulitan menyebut kata Samarkandi kemudian mengejanya dengan kata Asmorokondi sehingga mereka menyebutnya sebagai Syekh Ibrahim Asmorokondi. Beliau diperintah ayahnya Syekh Jumadil Kubro berdakwah ke negara-negara asia. Perintah ini dilaksanakan dengan penuh takdzim, dalam perjalanannya beliau berlabuh di negeri campa yakni sebuah kerajaan di wilayah Vietnam Selatan kemudian diambil menantu oleh raja campa dijodohkan dengan Putri Raja campa bernama Dewi Condrowulan, tidak lama kerajaan campa hancur diserang musuh sehingga membuat Ibrahim Asmoroqondi dan keluarganya lari menyelamatkan diri ke pulau Jawa yang waktu itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Hasil perkawinan dengan Dewi condrowulan Syekh Ibrahim Asmoroqondi dikarunia dua putra bernama Said Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel dan Sayyid Ali Murtadlah sedangkan adik Dewi condrowulan bernama Dewi Dwarawati dalam perkembangan berikutnya diperistri Raja Majapahit Prabu Brawijaya dan dikaruniai putra yang bernama Raden Fatah yang kelak akan mendirikan kerajaan Islam Demak Bintoro. Berdasarkan referensi tertentu Syekh Ibrahim Asmoroqondi tercatat sebagai keturunan Syekh Jamaluddin Jumadil Kubro bersama Maulana Ishaq Syekh Ibrahim Asmoroqondi sesuai referensi tersebut memiliki Putra diantaranya adalah Sunan Ampel sedangkan Maulana Ishak menikah dengan Dewi Sekardadu Putri Raja Blambangan dikarunia seorang anak bernama Jaka Samudra atau Raden Paku atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Giri. Kesimpulannya menurut sebagian pendapat bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim dan Ibrahim Asmoroqondi itu adalah dua orang berbeda dan sedangkan Syekh Maulana Malik Ibrahim terdapat referensi tambahan yang menyebutkan bahwa Beliau juga disebut sebagai pendakwah dari kerajaan Islam Samudra Pasai di Sumatera beliau dikirim raja kerajaan Islam Samudra Pasai Sultan Zainal Abidin untuk menyebarkan Islam ke Jawa dan Sulawesi. Maulana Malik Ibrahim berdakwah ke pulau Jawa sementara Maulana Ishak memilih memutar ke wilayah Sulawesi tentu referensi tambahan ini Kian menambah teka-teki asal usul Syekh Maulana Malik Ibrahim, pertanyaannya Mengapa Sultan Zainal abdin mengirim para pendakwahnya ke pulau Jawa. Inilah yang penting diketahui untuk bisa sedikit mengurai teka-teki misteri asal-usul Walisongo.

Pengiriman para pendakwah dilakukan karena kala itu Kerajaan Samudra Pasai diserang Kerajaan Majapahit dan hancur tahun 1360 masehi sehingga tidak bisa lagi melawan Kerajaan Majapahit secara militer, karena itu Sultan Zainal Abidin menempuh cara lain untuk menundukkan wilayah Majapahit di pulau Jawa dari dalam dengan cara menyebarkan agama Islam, cara inilah kemudian dikenal sebagai pendekatan kultural dalam Islam bukan pendekatan struktural. Sultan Zainal Abidin lalu mengirim orang-orang hebatnya ke pulau Jawa menyebarkan Islam di wilayah Majapahit, orang hebat yang dikirim adalah Maulana Malik Ibrahim, beliau lalu bermukim di Gresik untuk mensyiarkan ajaran Islam daerah Gresik khususnya. Gresik dahulunya merupakan salah satu daerah basis Islam yang sudah dirintis dan dibangun sejak zaman Fatimah binti Maimun yang wafat tahun 1082 masehi, jadi Maulana Malik Ibrahim bukanlah orang pertama yang menyebarkan Islam di Jawa karena sebelumnya Islam sudah berkembang meski masih lambat. Syekh Maulana Malik Ibrahim sendiri datang ke Gresik diperkirakan tahun 1404 Masehi, di awal dakwahnya beliau menggunakan pendekatan kekeluargaan dengan mengawinkan putrinya dengan Raja Majapahit, tetapi upaya ini rupanya tidak berhasil karena belum sampai ke tujuan rombongan terkena serangan penyakit hingga banyak yang meninggal dunia, namun demikian tantangan ini rupanya tidak menyurutkan tekad beliau mensyiarkan Islam ke wilayah Kerajaan Majapahit. Akhirnya Maulana Malik Ibrahim mengambil jalur lain dengan lebih konsentrasi membangun masyarakat Islam di wilayah pinggiran pantai utara seperti Gresik jauh dari ibukota Kerajaan Majapahit yang ada di Kota Mojokerto. Beliau mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan, di akhir kekuasaan Majapahit, beliau berusaha menarik hati masyarakat yang kala itu Tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.

Selain ahli pertanian, beliau juga ahli pengobatan. Keahlian ini sangat membantu dakwahnya di Gresik. Hasil pertanian rakyat meningkat tajam dan orang-orang sakit banyak yang sembuh melalui ramuan yang diraciknya kemudian diberikan kepada mereka yang sakit dengan lemah lembut Welas Asih dan ramah kepada semua orang sehingga membuatnya terkenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani dan dihormati. Kepribadian baik itulah yang menarik hati penduduk setempat sehingga mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan sukarela dan menjadi pengikut setia. Beliau mengenalkan Islam ke masyarakat dengan pendekatan kultural yang lemah lembut sehingga rakyat jelata yang pengetahuannya masih awam dapat mengiktuinya dengan penyampaian dakwah yang ringan dan mengena. Kaum bawah lebih dulu dibimbing untuk bisa mengolah tanah agar sawah dan ladangnya dapat dipanen lebih banyak lagi, sesudah itu mereka diajarkan untuk bersyukur kepada yang memberi rezeki yaitu Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Pendekatan dakwah ini yang membuat sosok Maulana Malik Ibrahim di kalangan rakyat jelata sangat terkenal terutama di kalangan kasta rendah sejalan dengan ajaran Islam yang tidak membeda-bedakan kedudukan antar manusia sebagaimana ajaran Hindu yang mengelompokkan seseorang berdasarkan 4 kasta yakni Brahmana, Satria, Waisya, dan Sudra, dari empat kasta itu kasta Sudra adalah paling rendah dan sering ditindas oleh kasta-kasta lebih tinggi, tidak heran bila kehadiran Islam langsung disambut senang terutama dari kalangan Sudra dan Waisa. Hebatnya sosok Syekh Maulana Malik Ibrahim bukan hanya populer di kalangan rakyat bawah tetapi juga dihormati di kalangan bangsawan kerajaan. Informasi tentang beliau sedikit banyak dapat dilihat dari huruf-huruf Arab yang terdapat pada batu nisan makam beliau diketahui bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah Kakek bantal penolong fakir miskin ahli tata negara ulung yang dihormati para pangeran dan para Sultan. Hal itu menunjukkan betapa luhurnya perjuangan beliau, bukan hanya di kalangan atas tetapi juga pada golongan rakyat bawah yaitu fakir miskin, dengan cara berdakwah bijaksana dan strategi yang tepat (BERSAMBUNG PART 3).

Penulis : @Syaf