@PWILS Gresik -- Van Der Plas adalah tokoh yang sangat berjasa pada klan Ba'alawi, dialah kolonialis yang menyokong dan berperan besar dalam membangun citra ba'alawi sebagai klan pembawa darah suci Rasul di Hindia Belanda. Semangat rasisme dan kastaisme pada klan Hadramaut sengaja dilestarikan oleh Van Der Plas dengan segala dukungannya. Ketika Indonesia merdeka Van Der Plas juga turut berkonspirasi dalam penjatuhan Bung Karno di tahun 1965 yang dimungkinkan karena Bung Karno mempunyai peran kesejarahan yang tidak mencantumkan klan Ba'alawi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Terlebih dahulu Mari kita berkenalan dengan Van Der Plas Nama lengkapnya adalah Charles Olke van der Plas, lahir tahun 1891 dan wafat pada tahun 1977. Semasa kolonialisme Van Der Plas pernah menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur, Van Der Plas adalah pejabat Belanda yang berotak sangat Cemerlang dia menguasai beberapa bahasa daerah diantaranya adalah bahasa Arab, bahasa China, dan juga sejumlah Bahasa lainnya. Van Der Plas berhasil membina keluarga-keluarga para pegawai Eropa yang disebut sebagai Binnenlandsch Bestuur (BB) dan para pegawai pribumi atau yang disebut sebagai Inlandsch Bestuur (IB) termasuk guru-guru agama pesantren-pesantren dan organisasi keagamaan dengan kelihaian dan tipu dayanya mereka semua dapat dikendalikan untuk kepentingan kolonialis.
Mengutip laman https://theglobal-review.com terlihat bahwa konspirasi menjelang meletusnya Gerakan 30 September 1965 jaringan intelijen binaan Van Der Plas diduga merajut persekutuan dengan Badan Intelijen Amerika CIA dan Badan Intelijen Inggris MI6 untuk menjatuhkan Presiden Soekarno, lalu apa hubungan Van Der Plas dengan klan Ba'alawi, dapat dikatakan Van Der Plas memiliki jasa sangat besar dalam rangka melestarikan kastaisme dan rasisme di Indonesia. Sejarah menulis ketika terjadi perang dingin di antara kalangan Ba'alawi dengan kalangan Qabili yang puncaknya ditandai dengan pecahnya persateruan pada Jam'iyatul Khair yakni Organisasi imigran Arab Hadramaut maka Van Der Plas hadir di saat yang tepat sebagai pembela kaum Ba'alawi. Pemerintah kolonial Belanda menjadi penyokong utama berdirinya lembaga Rabithah Alawiah melalui dukungan Van Der Plas pada kaum Ba'alawi. Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa imigran Hadramaut yang didatangkan ke Indonesia atau Hindia Belanda kala itu tidak semuanya berasal dari klan Ba'alwi. Namun demikian Klan Ba'alawi sebagai klan pengklaim Dzuriyah Nabi atau Sayyid karena mereka ingin dimuliakan oleh sesama imigran Hadramaut kemudian terpecahlah lembaga Jam'iyatul Khair yang semula digagas sebagai wadah perkumpulan sesama imigran Hadramaut. Kalangan Hadramaut di luar Kasta Sayyid pada akhirnya mendirikan organisasi Al-Irsyad yang dimotori oleh ulama terkenal kala itu. Syekh Ahmad Surkati (1875-1943) merasa terpojok dan dikucilkan para Imigran klan ba'alawi yang kemudian klan ba'alawi menggagas pendirian lembaga Rabithah Alawiyah. Ide ini mendapat sambutan hangat dari Van Der Plas, alasannya adalah karena Van Der Plas dapat membaca bahwa semangat dasar Rabithah Alawiyah adalah ingin melestarikan rasisme dan kastaisme. Sistem kasta ini jelas mendapat tempat dalam politik rasis Aparthaid yang dijalankan oleh pemerintah penjajah Belanda, ketika itu penjajah Belanda bahkan membagi kasta berdasarkan ras para imigran Hadramaut selaku pendatang asing misalnya mendapat posisi hanya satu kasta di bawah Belanda atau Eropa dan kasta kedua di atas pribumi atau Bumi Putra sebagai alasan pendirian Rabithah Alawiyah dimana lembaga ini khusus untuk ras pembawa darah suci Rasul (klaim ba'alwi) yang sejatinya adalah bentuk kesombongan dari klan tersebut karena pada kenyataannya pembawa darah suci Rasul di Nusantara pada waktu itu bukanlah mereka keturunan ba'alwi Hadramaut yang datang pada masa kolonial tetapi jauh di masa sebelumnya pembawa darah suci Rasul sudah bertebaran di Nusantara seperti Syekh Jumadil kubro dan kemudian keturunannya melakukan dakwah Islam membaur dengan kaum pribumi dan menikahi para putri raja dan putri bangsawan Nusantara hingga banyak Kesultanan menjadi pembawa dan pelestari darah suci Rasul demikian juga dengan para ulama pesantren atau Kiai banyak yang terlahir sebagai keturunan Rasulullah SAW Namun karena keturunan Syeh Jumadil kubra ini tidak rasis dan tidak menerapkan sistem pernikahan kafa'ah seperti klan Baalawi maka mereka berasimilasi dengan pribumi hingga secara fisik tidak bertampang Arab Kendati pun secara geneologinya bisa dipertanggungjawabkan keaslian dan kepastiannya kalangan Ba'alawi secara diam-diam sebenarnya memandang pribumi sebagai pembawa darah najis sehingga mereka menganggap bahwa pribumi Nusantara ini berkewajiban untuk melayani mereka sebagai pembawa darah suci Rasul telah membawa adat budaya kasta dari Hadramaut dengan meminjam kastaisme dalam agama Hindu terutama di India maka mereka menempatkan diri di kasta Brahmana dan menempatkan pribumi yang mereka sebut sebagai Ahwal di kasta terendah yakni kasta Sudra/waisa.
Pasca pendirian Rabithah Alawiah pada tahun 1928 kesombongan klan ba'alawi semakin menjadi-jadi mereka bahkan memohon kepada pemerintah kolonial untuk ditetapkan sebagai satu-satunya pihak yang diperbolehkan menyandang gelar Sayyid di Hindia Belanda. Snouck Hurgronje Sang waskita dalam bacaan politik di Hindia Belanda memberi masukan kepada Van Der Plas selaku pejabat Puncak Catatan Sipil Belanda kala itu untuk menolak permohonan tersebut Snouck Hurgronje membaca bila permohonan itu dikabulkan maka ditakutkan akan menjadi pemantik api pergolakan dan pemberontakan para ulama dan para Kiai di Hindia Belanda, analisa politik Snouck Hurgronje terbukti tepat di tahun 1932 sebuah resolusi dilayangkan oleh 25 orang ulama ternama pada waktu itu termasuk Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari kepada pemerintah kolonial Belanda terkait penggunaan gelar Sayyid dan Syarif. Tak lama kemudian masih di tahun yang sama pemerintah kolonial lewat catatan sipilnya menyatakan penolakan terhadap permohonan gelar Sayyid untuk para klan sebagai gelar atau sebutan di depan nama mereka sebagai Pelipur duka Van Der Plas agaknya memberikan Positula yang dikenal dengan istilah Habibisme atau yang oleh Soekarno atau Bung Karno disebut sebagai Hadramautisme. Bung Karno bahkan sama sekali tak mempercayai Apa yang disebut olehnya sebagai brosur bukti kebenaran sebutan ini agaknya dimaksudkan sebagai lembaran atau buku catatan silsilah nasab klan Ba'alawi, terbukti di masakini catatan nasab Rizik Sihab memang terverifikasi sangat ngawur dan tak masuk akal. Presiden Soekarno tetap mempertahankan keyakinannya bahwa mereka tidak terverifikasi sebagai dzurriyah Rasulullahh Sallallahu Alaihi Wasallam. Hal ini dapat dilihat dari bukti-bukti sejarah bahwa Bung Karno tak pernah sedikitpun menulis keterlibatan para habaib dalam sejarah kemerdekaan Indonesia jika kemudian terdapat tokoh seperti Abdur Rahman Baswedan kakek dari Anis Baswedan yang ditetapkan sebagai Pahlawan maka dia adalah keturunan Hadramaut yang bukan berasal dari klan Ba'alawi, demikan pula dengan sejumlah nama lainnya. Sikap Bung Karno itu sepertinya tetap berada dalam pantauan Van Der Plas di samping harus tetap menyokong rasisme dan kastaisme yang dikembangkan oleh klan ba'alawi lewat lembaga Rabithah Alawiyah bagi Van Der Plas Belanda juga harus tetap balas budi atas jasa itu sebagai sekutu setia yang sangat berjasa mendukung penjajahan berkat persekongkolan dengan klan Ba'alawi, Belanda dapat meruntuhkan Kesultanan Banten demikian juga dalam memadamkan perlawanan Aceh dan membungkam habis pejuang para ulama tarekot Banten Jawa dan Madura seperti disebutkan di awal Van Der Plas kemudian juga turut berkonspirasi dalam penjatuhan Bung Karno di tahun1965 lewat Apa yang disebut sebagai Van Der Plas connection.
Di era reformasi terutama di masa Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY), keberadaan kaum Habib Kembali menguat di samping Karena sepak terjang Rizik Shihab dengan FPI-nya juga karena SBY sendiri memberi angin segar dengan mendirikan apa yang disebut sebagai Majelis Rasulullah yang melibatkan sejumlah tokoh Habib seperti keluarga Habib Kwitang. Akibat angin segar pemerintahan SBY ini panggung-panggung selawat menggema di berbagai tempat, pendawiran terjadi di berbagai pelosok demikian pula dengan Tindakan semena-mena lainnya yang dilakukan oleh mereka yang berasal dari klan Ba'alawi bisa dikatakan tak ada rasa hormat mereka terhadap warga bangsa yang lainnya tak peduli itu Ulama atau Umaro, Kiyai atau bahkan presiden sekalipun semua bisa mereka caci maki seenaknya, di era pemerintahan SBY bagaikan menemukan surganya Kembali, bahkan ketika itu ketua umum Rabithah Alawiah Al-Habib Zen bin Umar Sumaith pernah menegaskan bahwa para Ba'alawi itu adalah Sayyid dan gelar Habib diperuntukkan untuk para Sayyid yang alim ibarat pepatah sekali Mendayung dua tiga pulau terlampaui mereka dapat menggunakan Sayyid dan sekaligus dapat menggunakan Habib dua gelar suci yang semakin membius para muhibbin. Apa jadinya kita semua anak-anak bangsa ini andai saja Allah SWT tidak menghadirkan sosok KH. Imaduddin Utsman Albantani di tengah-tengah rasisme dan kastaisme yang semakin diperluas oleh klan Ba'alawi. Sudah barang tentu kita semua sudah berada dalam pengaruh sihir rasis dan dicuci otaknya oleh para klan Ba'alawi. Setelah Kyai Imad memantikkan api perlawanan lewat tesisnya kini kalangan Habib mengalami sok berat mereka sulit untuk percaya bahwa akan lahir sosok pribumi yang berani menyoal keabsahan nasab klan mereka. Sikap menganggap remeh inilah yang menyebabkan para pentolan Habib seperti Rizik Sihab dan Taufik Asegaf hanya menganggap Kyai Imad dengan tesisnya sebagai masalah kecil saja. Rizik menyebut Kyai Imad belajar dikandang kebo sedangkan Taufik menganggap suara Kyai Imad dengan tesisnya hanya seumpama suara jangkrik andai saja Van Der Plas masih ada pasti dia akan kecewa karena Rabithah Alawiah lembaga yang disokongnya sejak awal berdirinya itu justru tak mampu berbuat apa-apa untuk membela nasab klan bukan hanya gagal membela nasab seluruh konspirasi mereka untuk mencaplok NKRI juga terbongkar hingga keakar-akarnya.
(Syaf)