Haul Gresik merupakan peristiwa yang diadakan untuk memperingati dan menghormati para wali dan tokoh penting dalam sejarah penyebaran agama Islam di Nusantara. Namun, acara ini kini menjadi sorotan dan kontroversi di kalangan masyarakat, terutama terkait dengan pengaruh kaum Ba’alawi yang mengklaim sebagai keturunan Nabi. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih dalam tentang peran Sunan Gresik dan Sunan Giri, tantangan yang dihadapi, serta dampak dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap sejarah Islam.
Signifikansi Gresik dalam Sejarah Islam
Gresik adalah salah satu kota yang memiliki signifikansi besar dalam sejarah Islam di Indonesia. Maulana Malik Ibrahim, yang dikenal sebagai Sunan Gresik, adalah salah satu dari Wali Songo yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Bersama dengan Raden Ainul Yakin, atau Sunan Giri, mereka telah menanamkan nilai-nilai Islam yang kuat di masyarakat setempat.
Kontroversi Seputar Haul
Kegiatan haul yang seharusnya menjadi momen untuk mengenang jasa-jasa para wali kini dipertanyakan. Seorang kiai dari Gresik mengeluhkan bahwa haul yang diadakan lebih mengedepankan tokoh-tokoh tertentu, terutama dari kalangan Ba’alawi, yang tidak memiliki kontribusi signifikan terhadap sejarah Islam di Gresik. Kontroversi ini melibatkan beberapa isu utama:
- Pengabaian Tokoh Lokal: Banyak haul yang kini lebih mengedepankan tokoh-tokoh dari kalangan Ba’alawi, mengabaikan Sunan Gresik dan Sunan Giri.
- Isu Identitas: Masyarakat mulai bingung mengenai siapa yang seharusnya dihormati dan diingat dalam sejarah Islam mereka.
- Pengaruh Kaum Ba’alawi: Kaum Ba’alawi, yang mengklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad, telah berhasil mendoktrin masyarakat untuk lebih memuliakan mereka. Ini membawa dampak signifikan terhadap penghormatan masyarakat terhadap sejarah penyebaran Islam di Jawa Timur.
Dampak Negatif
Pengaruh ini membawa beberapa dampak negatif yang perlu disoroti:
- Pengikisan Sejarah: Penghormatan terhadap Sunan Gresik dan Sunan Giri mulai terkikis, menyebabkan masyarakat kurang mengenal jasa mereka.
- Kepemimpinan Spiritual: Masyarakat lebih cenderung mengikuti kaum Ba’alawi, mengabaikan para ulama dan kiai yang merupakan zuriat langsung dari wali-wali besar.
- Perubahan Nilai: Masyarakat mulai mengadopsi nilai-nilai baru yang mungkin tidak sejalan dengan ajaran Islam yang diajarkan oleh para wali.
Kesadaran Masyarakat
Penting bagi masyarakat Gresik untuk menyadari bahwa mereka memiliki sejarah yang kaya dan perlu menghargai jasa para wali. Jika tidak, dalam 100 tahun ke depan, sejarah Sunan Gresik dan Sunan Giri bisa dianggap sebagai mitos, dan pengaruh kaum Ba’alawi akan semakin kuat.
Upaya Mengembalikan Kesadaran Sejarah
Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengembalikan kesadaran masyarakat akan pentingnya sejarah lokal adalah:
- Pendidikan Sejarah: Mengintegrasikan pendidikan sejarah Islam di sekolah-sekolah untuk meningkatkan kesadaran generasi muda.
- Kegiatan Budaya: Mengadakan kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat untuk mengenang para wali dan jasa mereka.
- Dialog Masyarakat: Mendorong dialog antar generasi dan komunitas untuk mendiskusikan pentingnya menghargai sejarah.
Haul Gresik seharusnya menjadi momen untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa Sunan Gresik dan Sunan Giri. Masyarakat perlu berpegang pada sejarah dan tidak terpengaruh oleh doktrin yang dapat mengubah pandangan mereka terhadap warisan Islam di daerah mereka. Dengan meningkatkan kesadaran akan sejarah, diharapkan masyarakat Gresik dapat kembali menghargai dan melestarikan warisan budaya dan spiritual yang telah dibangun oleh para wali.
Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya menghargai sejarah dan peran para wali dalam penyebaran agama Islam di Gresik, serta tantangan yang dihadapi saat ini. Mari bersama-sama menjaga dan melestarikan warisan yang telah ditinggalkan oleh para pendahulu kita.
Ditulis Oleh : @Syaf