@PWILS Gresik - Banyak dari masyarakat indonesia, terutama warga kaum Nahdhiyin ketika ada acara tertentu kemudian mengundang Sholawatan dari oknum klan mereka, namun demikian, apakah kondisi ini baik menurut perspektif kebangsaan kita sebagai warga negara indonesia, ketika secara bersamaan oknum-oknum dari klan mereka melakukan upaya pengubahan sejarah bangsa indonesia, mengubah nama-nama makam leluhur bangsa, mengubah nama-nama pahlawan yang kemudian namanya disandarkan kepada marga klan mereka, mencoba mengubah sejarah Nahdhotul Ulama, dan masih banyak lagi perilaku-perilaku dari oknum-oknum mereka yang berpotensi merusak keharmonisan ekosistem kebangsaan kita. Perlu kita sadari, bahwa mengubah sejarah suatu bangsa adalah kejahatan yang tidak boleh dibiarkan begitu saja, namun demikian, kenapa mereka terkesan dibiarkan begitu saja, tidak ada ketegasan dari aparatur penegak hukum, bahkan ada kesan dilindungi. Begitu kuatnya pengaruh mereka kepada ulama-ulama nusantara adalah salah satu faktor, kenapa mereka begitu leluasa melenggang di bumi nusantara ini, padahal begitu banyak dugaan kejahatan luar biasa yang mereka lakukan, para ulama nusantara sebagian menaruh sikap khusnudzon terhadap mereka, dan tidak mau mengambil sikap secara serius saat oknum-oknum dari klan mereka melakukan kejahatan, oleh karena sebagian dari para kiai-kiai nusantara meyakini bahwa mereka bernasab kepada Nabi Muhammad SAW (walaupun tanpa bukti sains).
SHOLAWATAN
Mengucapkan sholawat itu baik, bukti kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW, namun apakah Acara Sholawatan itu selalu baik ?, sepanjang acara tersebut dibalut dengan perilaku positif dan sebagai syiar keagamaan, acara sholawatan tentu menghasilkan manfaat bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Dalil mengenai keutamaan membaca shalawat, antara lain :
Allah Subhaanhu wa ta’ala berfirman :
إنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab/33: 56].
Dapat Pahala Berlipat :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali." (HR. Muslim)
Mendapat Syafaat :
وعن عبدِ الله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى عنهما أنّه سَمِعَ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إذا سَمِعْتُمُ النِدَاءَ فقولوا مثلَ ما يقولُ، ثمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فإنّه مَنْ صَلّى عَلَيَّ صلاةً صلى اللهُ عليه بها عَشْرَا، ثمّ سلوا اللهَ ليَ الوَسِيْلَةَ، فإنّها مَنْزِلَةٌ في الجنّة لا تنبغي إلاّ لِعَبْدٍ مِنْ عباد الله، وأرجو أن أكونَ أنا هو، فَمَنْ سألَ لِيَ الوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَفَاعَةَ» (مسلم)،
Artinya: "Apabila kalian mendengar suara muazzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diserukannya, kemudian bacalah salawat untukku. Karena sesungguhnya barang siapa yang membaca salawat untukku, maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kali lipat. Kemudian mohonkanlah kepada Allah al-wasilah untukku, karena sesungguhnya al-wasilah itu adalah suatu kedudukan di surga yang tidak diberikan melainkan hanya kepada seseorang dari hamba-hamba Allah. Dan aku berharap semoga orang tersebut adalah aku sendiri. Barang siapa yang memohonkan wasilah buatku, maka dia akan mendapat syafaat". (HR. Imam Muslim).
Membaca sholawat adalah bagus, namun demikian, apakah selalu bagus ketika klan yang diduga mempunyai tujuan tidak baik kepada bangsa ini, diberikan panggung, tentu sikap dan langkah terbaik bagi warga pribumi adalah kewaspadaan yang harus diambil, waspada kepada kejahatan trans-nasional, waspada kepada dugaan makar, waspada kepada dugaan menguasai indonesia dengan jalan merubah sejarah, dan lain sebagainya. Merubah sejarah adalah kejahatan, dan ini harus kita sepakati bersama. Pembelokan sejarah tentu mempunyai maksud, salah satunya adalah mengelabuhi anak bangsa puluhan tahun kedepan, agar tidak mengenali kebesaran bangsanya sendiri, yang dilihat adalah bangsa luar yang telah berjasa kepada Indonesia, kondisi semacam ini haruslah diluruskan, secara bersamaan kita harus menjaganya dari upaya pembolakan-pembelokan yang tidak bertanggung jawab.
Dari oknum mereka tidak ada ketegasan untuk saling mengingatkan, bahwa oknum yang merubah sejarah bangsa, kuburan, sejarah NU, dan tindakan-tindakan lainnya diberikan teguran keras dan ada punishment yang tegas, sebaliknya, dibiarkan begitu saja, hal ini mengindikasikan bahwa mereka sebenarnya sejalan dan patut diduga mempunyai agenda besar terhadap bangsa dan negara ini. Pribumi yang mengundang klan mereka bersholawat tidak lain dan tidak bukan hanya meminta mengisi acaranya tanpa mengetahui peran-peran mereka secara mendalam, namun secara paralel sejalan dengan agenda mereka sebagai upaya menutupi agenda besar, di satu sisi, masyarakat tertarik, dan memberikan penilaian bahwa mereka disamping keturunan Rosulullah SAW (tanpa bukti sejarah, filologi, dan DNA), juga menebar syiar berupa sholawatan, di sisi lain, mereka masih melenggang untuk meneruskan agenda besarnya tanpa disadari oleh sebagian kita.
Sikap pribumi mustinya waspada, dengan memperluas medan berfikir dan berupaya kritis terhadap fenomena ini, terbuka dengan ilmu pengetahuan, karena agama sejalan dengan ilmu pengetahuan, dan kemudian secara bersamaan memahami genetik mereka dengan ilmu, memahami doktrin mereka dengan ilmu, dan memahami bahayanya mereka juga dengan ilmu pengetahuan dan sains. Kemudian bersikap dengan terukur dan waspada.
Sholawatan dengan tujuan perbudakan agama tentu tidak baik apalagi dengan tujuan menghancurkan bangsa indonesia melalui hegemoni sholawatan di permukaan, namun di dalamnya masih berupaya mengubah sejarah, mengubah nama-nama makam leluhur, mengubah nama pahlawan yang telah gugur, mengubah sanad keilmuan thoriqoh, mengatakan bahwa tanpa klan mereka indonesia tidak akan merdeka, dan masih banyak lagi sikap-sikap yang menyelisihi kebenaran lainnya.
Penulis : Mohammad S., S.Kom., M.Kom.
(Dosen Rekayasa Perangkat Lunak, Telkom University, Kampus Surabaya)