@PWILS Gresik -- Di jejaring sosial viral sebuah konten berjudul 13 dongeng Ba'alawi yang dipercaya para muhibinnya bahwa dongeng-dongeng yang dimaksud diatas dikaitkan dengan karamah leluhur Ba'alawi. Glorifikasi dongeng leluhur mereka tidak terlepas dari pengakuan tanpa dasar bahwa mereka sebagai anak cucu Rasulullah SAW.  Hampir semua penceramah dari klan Ba'alawi menyampaikan isi ceramahnya menyebutkan leluhurnya adalah mereka yang memiliki derajat sebagai Wali Allah yang karomahnya diglorifikasi sedemikian rupa hingga bertentangan dengan kaidah-kaidah Turost yang dipedomani oleh kaum muslimin. Karomah sendiri adalah suatu peristiwa atau keadaan yang di luar batas akal sehat atau Nalar (kemampuan luar biasa di atas lazimnya manusia) yang terjadi pada individu tertentu yakni seorang wali Allah. Al-Imam Ibnu Hajar Al-haitami menegaskan bahwa karomah itu adalah sebagai perkara yang khususiat dan hak bagi hamba Allah yang Saleh, Ibnu Hajar juga menegaskan bahwa karamah Wali Allah itu ada dan benar dan telah disepakati umumnya oleh ulama Ahli Sunnah Wal Jama'ah, Namun demikian jika ada penyebutan karomah pada diri seseorang yang kemudian, akal sehat menolaknya, namun tidak mampu memposisikan keyakinan ini pada kondisi yang benar, hal demikian bisa jadi terjerembap pada khurafat, apalagi karomah tersebut hanya glorifikasi dan tidak terjadi yang sebenarnya hal demikian itu merupakan suatu kebohongan yang nyata. Glorifikasi berlebihan dan fakta karomah yang fatamorgana dipublikasikan tanpa akal sehat menjadi ciri khas dari klan Ba'alawi, mulai dongeng khurofat bahwa leluhurnya bisa memadamkan api neraka sampai dengan Faqih Muqoddam bisa Mi'roj 70x sehari ke sidratul muntaha yang merupakan cerita khurafat/khayalan/ilusi.

Meskipun demikian para muhibin kelas berat tetap mempercayai dongeng Ba'alawi tersebut, padahal dengan dengan menggunakan penalaran yang sederhana dan kesadaran, mustinya para muhibbbin dapat dengan mudah menyimpulkan.  Demikian cinta itu membutakan dan menumpulkan pikiran.

Benar-benar karamah yang sangat luar biasa membagongkan inilah narasi lengkapnya dikutip dari kitab Raudatul Wildan fabat Ibni Jindan karya Syekh Salim Bin Jindan seorang Ba'alawi kelahiran Surabaya tahun 1906 dan wafat pada tahun 1969 yang dimakamkan di Condet Jakarta. Pada halaman 233, Salim Bin Jindan menulis dalam kitabnya bahwa Hadramaut bercahaya karena kedatangan Ahmad Bin Isa demikianlah kedustaan yang dibangun oleh ba'alawi, jelas tidak ada data sejarah bahwa Ahmad Bin Isa pernah hijrah ke Hadramaut Yaman. Salim Bin Jindan menulis kalimat sedemikian itu dalam kitabnya semata-mata hanya ingin menyamakan Hadramaut menjadi berkah karena kedatangan Ahmad Bin Isa dengan kota Suci Madinah Al-Munawarah yang kedatangan Nabi Muhammad SAW. Pada halaman yang sama, Salim Bin Jindan selanjutnya menulis bahwa Indonesia yang subur dan Makmur ini adalah karena barokah dari kedatangan Ba'alawi sebelumnya dimana bumi Indonesia adalah yang tanah kering, tidak ada sungai, Setelah Ba'alawi datang tahun 1850 masehi muncullah sungai-sungai yang membelah dataran Indonesia dan tumbuhlah pepohonan seperti sekarang ini. Indonesia dulunya dijajah ratusan tahun Tetapi setelah datangnya Ba'alawi, Indonesia baru bisa merdeka narasi Ghuluw atau berlebih-lebihan yang ditulis oleh Salim Bin Jindan di dalam kitabnya itu amatlah menghina leluhur bangsa Indonesia bahkan seluruh Bumiputra di negeri ini seakan-akan Salim Bin Jindan ingin mengatakan bahwa Indonesia ini subur dan makmur karena barokah klan Ba'alawi dan Indonesia ini diberikan kemerdekaan oleh Allah SWT adalah juga karena barokah Dari klan mereka. Cara seperti yang dilakukan oleh Salim Bin Jindan ini merupakan modus yang selalu dilakukan oleh Ba'alawi membangun glorifikasi dengan khurafat dan kebohongan. Perkataan yang tidak benar sebagaimana yang dismapaikan oleh Salim Bin Jindan yang mengatakan bahwa Indonesia sebelum kedatangan Ba'alawi pada tahun 1850 masehi adalah sebuah negeri yang tanahnya kering yang tidak ada sungai dan setelah Ba'alawi datang barulah muncul sungai-sungai sehingga tumbuhlah pepohonan yang subur seperti sekarang ini, dan suatu kebohongan yang nyata dan membelokkan sejarah bahwa Salim Bin Jindan mengatakan bahwa Indonesia baru bisa merdeka karena kedatangan Ba'alawi. Narasi yang dibangun oleh Salim Bin Jindan itu jelas amat mengecilkan para leluhur bangsa dan kita sebagai pribumi negeri  sudah pasti Salim Bin Jindan mengatakan hal sedemikian dengan tanpa melakukan observasi sebab nyatanya Indonesia adalah negeri yang subur nakmur sejak awal keberadaannya sebagai karunia Allah SWT dan apabila Salim Bin Jindan mengatakan bahwa Indonesia baru merdeka setelah  kedatangan Ba'alawi maka ini adalah narasi yang sungguh sangat keterlaluan dan  perlu diluruskan.

Di masa-masa awal perang kemerdekaan, Apakah ada Ba'alawi yang ikut berjuang melawan Belanda, pasti tidak ada Sebab mereka jelas adalah antek-antek Belanda itu sendiri. Ba'alawi membangun keagungannya dengan berbohong atas nama agama dan Rasulullah SAW dengan narasi palsu yang ditulis oleh Salim Bin Jindan. Dengan dasar pemikiran yang sederhana ini seharusnya membuat para Muhibbin berpikir cerdas, bahwa Ba'alawi itu adalah klan tempat bercokolnya para pembohong besar dalam peradaban dan genealogi mereka merupakan genealogi yang diduga menjadi bibit perpecahan dunia. Apabila mereka berdalih bahwa kedatangan datuk-datuk mereka ke Nusantara adalah untuk berdakwah menyebarkan agama Islam, klaim tersebut adalah kedustaan, mereka datang ke banyak negeri karena banyak faktor, misalnya kekeringan, kemiskinan, konflik, dan perang saudara yang berkepanjangan di negeri Yaman mengutip tulisan Prof. Sumanto Al-Qurtubi, bahkan hingga kini Yaman masih dilanda kekerasan dan kelaparan yang membuat masa depan negara ini suram dan terancam bangkrut sehingga menjadi negara termiskin di dunia fakta tersebut jelas bertentangan dengan narasi yang dibangun oleh Salim Bin Jindan dalam kitab karyanya halaman 233.

 

Salam NKRI Harga mati

Penulis : @Syaf