Dalam khazanah islam, orang-orang pilihan Allah SWT adalah mereka yang mempunyai keistimewaan. Mereka dipandang sebagai teladan dalam kehidupan beragama, memiliki adab dan akhlak yang mulia, dan senantiasa taat kepada perintah Allah SWT. Orang-orang istimewa tersebut antara lain :

NABI DAN ROSUL

Nabi dan Rosul merupakan orang yang istimewa, nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu untuk dirinya sendiri, sedangkan Rosul adalah seseorang yang mendapatkan wahyu dari Allah SWT, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga harus disampaikan kepada ummat manusia. Tidak musti bahwa seseorang yang berstatus Nabi menjadi seorang Rosul, tetapi seseorang yang menjadi Rosul pastilah beliau juga seorang Nabi. Seperti Halnya Nabi Muhammad SAW beliau juga sebagai seorang Rosul yang menyampaikan Risalah Kenabian. 

Para Nabi dan Rosul dijaga dari kesalahan oleh Allah SWT yang dikenal dengan istilah ma'sum, sifat ini dimiliki untuk menjaga kemuliaan dan martabat mereka di hadapan kaumnya. Selain itu, sifat ma'sum juga membuat para nabi dan rasul menjadi teladan bagi umat manusia.

SAHABAT NABI

Sahabat adalah orang-orang yang hidup pada masa Nabi Muhammad SAW, bertemu dengannya, dan meninggal dalam keadaan beriman. Mereka menjadi saksi langsung atas risalah Islam dan berperan penting dalam penyebaran agama Islam setelah wafatnya Nabi. Para sahabat utama seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib adalah contoh sahabat yang diakui keutamaan dan ketakwaannya bahkan dijamin masuk surga.

WALI ALLAH

Wali Allah atau auliya Allah adalah hamba-hamba yang dekat dengan Allah SWT, yang senantiasa taat dan menjaga hubungan spiritualnya dengan Allah. Mereka mendapatkan keutamaan dan perlindungan dari Allah SWT.

Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman dalam surat Yunus ayat 62:

أَلَآ إِنَّ أَوْلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ, ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ

Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa”.

 

ULAMA YANG SHALIH

Ulama yang ikhlas dan berilmu adalah pewaris para Nabi, yang meneruskan ilmu agama dan memberi tuntunan kepada umat. Mereka adalah orang-orang yang mendalami ilmu agama, mengajarkannya dengan ikhlas, dan menjadi panutan dalam ibadah dan akhlak.

إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Hadits ini diriwayatkan Al-Imam At-Tirmidzi).

 

APAKAH HABIB ABU BAKAR ASSEGAF (GRESIK) ADALAH WALI QUTUB ?

Wali Qutub adalah gelar yang diberikan kepada wali Allah yang memiliki kedudukan tertinggi di antara para wali. Dalam tasawuf, Wali Qutub dianggap sebagai poros atau pusat spiritual yang menjadi sumber kekuatan rohani bagi seluruh alam semesta. Gelar ini bukan sembarang gelar, dan orang yang mencapai kedudukan ini diyakini telah mencapai puncak kedekatan dengan Allah SWT serta memiliki kualitas spiritual yang sangat tinggi. Namun, penting untuk dicatat bahwa konsep ini lebih banyak dikenal dalam tradisi tasawuf dan bukan merupakan ajaran dasar Islam.

Tidak ada metodologi khusus untuk mengetahui seseorang itu menjadi wali atau bukan, hanya Allah SWT yang mengetahui hambanya yang bertaqwa. Namun demikian, kita harus jeli dalam memahami fenomena ini, apakah Habib Abu Bakar Assegaf (Gresik) merupakan Wali Qutub atau tidak ?. Setelah menelusuri, beberapa artikel, sebuah tulisan yang menerangkan bahwa Habib Abu Bakar Assegaf adalah seorang Wali Qutub berasal dari perkataan Habib Muhammad Al-Muhdhor [1]. Dalam suatu artikel diterangkan bahwa Habib Abu bakar Assegaf merupakan seorang wali, artikel ini juga mengutib dari buku 17 Habaib berpengaruh di Indonesia karya Abdul Qodir Umar Mauladdawilah [2]. Pada artikel lain diterangkan, menurut Habib Muhammad yang dimuat pada berita detik.com, bahwa Habib Abu Bakar Assegaf merupakan presiden Wali Sedunia [3]. 

Dari beberapa kutipan diatas, bahwa julukan wali Qutub berasal dari internal mereka sendiri, pengakuan-pengakuan internal tidak bisa menggeneralisir apakah tokoh yang dimaksud adalah Wali Qutub atau bukan, kewalian atau status seseorang sebagai wali adalah ketetapan Allah SWT, dan hanya Dia yang mengetahui secara pasti siapa saja hamba-Nya yang termasuk dalam golongan wali tersebut. Banyak wali yang menjalani kehidupan mereka tanpa publikasi atau pengakuan, dan beberapa dari mereka bahkan menyembunyikan kedudukannya agar tidak diketahui orang lain. Kerahasiaan ini menjadikan identifikasi seorang wali menjadi sulit, karena mereka sengaja menyembunyikan amal-amal dan kedekatan mereka dengan Allah SWT. Pengakuan-pengakuan bahwa orang tertentu wali atau bukan adalah hal yang mengada-ada, dan tidak bisa digunakan sebagai acuan bahkan cenderung berbohong, kecuali yang telah jelas kiprah dan dakwahnya seperti Wali Songo terlepas itu Qutub atau bukan.

 

PENGAKUAN KEWALIAN TIDAK DIANJURKAN DALAM ISLAM

Dalam ajaran Islam, tidak dianjurkan bagi seseorang untuk mengklaim diri atau orang lain sebagai wali Allah secara terbuka. Klaim ini berisiko menimbulkan fitnah, kesombongan, atau bahkan penyalahgunaan. Para ulama dan tokoh sufi besar sering kali menolak pengakuan kewalian karena mereka khawatir akan penyakit hati seperti ujub (bangga diri) dan riya (ingin dipuji orang lain). Maka jika ada yang mengaku wali pastilah itu adalah kebohongan apalagi memberikan gelar Wali Qutub dari internal mereka pastilah hal demikian adalah sesuatu yang dipertanyakan.

 

KEBIASAAN MEREKA MEMBERIKAN STEMPEL WALI 

Kebiasaan dari klan ini adalah memberikan stempel wali kepada internal mereka yang lain, bahkan nama tempat asal-usulnya saja diberi julukan kota seribu wali, hal ini bertentangan dengan prinsip kerendahan hati dan kesetaraan, kondisi semacam ini memungkinkan ada kelas-kelas sosial yang tidak diperlukan dalam agama, bahwa manusia itu sama di hadapan Allah SWT, yang membedakan adalah nilai Ketaqwaannya, biarkanlah kewalian hanya Allah SWT yang menilai, bukan manusia untuk manusia yang lain. 

Maraknya makam palsu di Indonesia menjadi indikator baru bahwa mereka mempunyai kecenderungan untuk tidak jujur kepada masyarakat dan bangsa ini, bahkan mereka dengan mudah dari sekian makam palsu menjadi wali-wali baru tanpa justifikasi sejarah dan tasawuf, merubah sejarah bangsa, merubah sejarah Nahdhatul Ulama, menyampaikan doktrin-doktrin yang tidak masuk akal dan keluar dari kaidah Turost Islam, dan masih banyak yang lain. Hal ini semakin menambah panjang kerancuan-kerancuan terhadap klan ini yang mudah glorifikasi suatu tokoh untuk ditonjolkan kesaktian dan karomah, hal demikian tersebut tentu merupakan usaha dalam memanipulasi agama dan bahkan berpotensi membahayakan negara kesatuan republik indonesia.

Penulis : Mohammad S., S.Kom., M.Kom.
(Dosen Rekayasa Perangkat Lunak, Telkom University, Kampus Surabaya)

Sumber :

[1]. Dikutip dari Liputan 6 melalui tautan (Baca)

[2]. Dikutip dari Radar Gresik melalui tautan (Baca

[3]. Dikutip dari Berita Detik melalui tautan (Baca