@PWILS-Gresik--Akhir-akhir ini perdebatan tentang pengakuan nasab tentang klan tertentu menjadi trending di media sosial dan elektronik, hal ini tentu menjadi isu menarik yang oleh sebagian orang mendalami dengan teliti menggunakan perangkat ilmu pengetahuan dan sains. Pendalaman tentang nasab oleh sebagian peneliti menggunakan ilmu sejarah, ilmu filologi, dan ilmu biologi molekuler. Hal ini tentu untuk mengungkapkan kebenaran dan membongkar kebatilan kemudian memberikan argumentasi kepada masyarakat bahwa ilmu pengetahuan dan sains selalu dapat mengembalikan posisi yang sebenarnya, yakni memposisikan kebenaran pada posisi benar dan memposisikan batil pada posisi batil. Ilmu pengetahuan selalu menjawab keraguan dan membawa kita menuju kepada kebenaran, terlepas itu kebenaran agama maupun kebenaran ilmu pengetahuan sains. Dahulu kebanyakan kita menganggap bahwa bumi adalah datar, dengan pendekatan pengetahuan dan sains serta teknologi, ternyata bumi adalah bulat. Dahulu orang berkomunikasi jarak jauh antar kota maupun antar negara menggunakan surat pos, namun dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, berkomunikasi dimanapun berada asal ada gelombang elektromagnetik dan internet serta media transmisi, kita semua dapat berkomunikasi dengan siapapun dan dimanapun serta kapanpun. Dengan demikian, kita harus mempercayai ilmu pengetahuan dan sains, terlepas itu ilmu agama maupun ilmu pengetahuan lainnya.
MANUSIA BERPOTENSI BERDUSTA
Orang yang berpijak pada ilmu pengetahuan adalah orang yang jujur, karena dasar pemikiran dan kerangka pemikirannya didasari dengan ilmu pengetahuan. Seorang penjual akan menggunakan perhitungan matematika saat melakukan transaksi, misalnya barang yang dijual laku dengan harga 90.000,- yang membeli membayarnya dengan uang kertas pecahan 100.000,-, maka yang bertransaksi tidak boleh menggunakan khusnudzon untuk mengembalikan sisa pembayaran dengan 5.000,-, peran matematika adalah mengurangkan 100.000,- dengan harga barang 90.000,- sehingga sisa uang yang harus dikembalikan ke pembeli adalah 10.000,- bukan 5.000,-. Hikmahnya adalah, sepanjang ilmu pengetahuan digunakan, maka keyakinan-keyakinan yang salah dapat diminimalisir. Islam mengajarkan tidak sekedar yakin, keyakinan harus beririsan dengan akal kemudian digunakan untuk berfikir, sehingga berkeyakinan harus dengan kecerdasan (Ilmul Yaqin) yang nantinya akan melahirnya Haqqul Yaqin.
Dalam diri manusia diberikan potensi-potensi, dan itu menjadi pilihan kehidupan, termasuk potensi berbohong. Dalam kaitan dengan sifat pembohong, tentunya ada motif yang melatarbelakangi kenapa mereka harus berbohong dan untuk apa berbohong itu dilakukan. kedustaan itu tidak baik, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur'an Surat Az-Zumar ayat 3 :
اَلَا لِلّٰهِ الدِّيۡنُ الۡخَالِصُ ؕ وَالَّذِيۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِهٖۤ اَوۡلِيَآءَ ۘ مَا نَعۡبُدُهُمۡ اِلَّا لِيُقَرِّبُوۡنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلۡفٰى ؕ اِنَّ اللّٰهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِىۡ مَا هُمۡ فِيۡهِ يَخۡتَلِفُوۡنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهۡدِىۡ مَنۡ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ
"Artinya: Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), "Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya." Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar".
Al-Qur'an Surat An-Nur Ayat 7 :
وَالۡخَـامِسَةُ اَنَّ لَـعۡنَتَ اللّٰهِ عَلَيۡهِ اِنۡ كَانَ مِنَ الۡكٰذِبِيۡنَ
"Artinya : Dan (sumpah) yang kelima bahwa laknat Allah akan menimpanya, jika dia termasuk orang yang berdusta."
Allah SWT tidak akan memberikan petunjuk bagi pendusta dan dari kedustaan tersebut Allah SWT akan menjatuhkan laknat. Dengan demikian, begitu membahayakannya sifat dusta bagi orang yang melakukannya, anak yang dusta kepada orang tuanya akan merugikan orang tua anak tersebut, anggota masyarakat yang berdusta kepada masyarakatnya akan merugikan masyarakatnya tersebut, seorang pemimpin yang membohongi rakyatnya akan merugikan rakyatnya tergantung sebarapa banyak masyarakat yang dipimpinnya, pendakwah yang mengatasnamakan agama namun membohongi ummat atas ajaran yang disampaikan maka dia telah membohongi ummat semuanya.
KATEGORI DUSTA UNTUK MENJADI DAJJAL
Makna kata dajjal (الدَّجَلُ) adalah mencampur adukkan, sebagian pendapat mengatakan bahwa dajjal merupakan istilah orang yang merancukan, mencampuradukkan, dan mendustakan. Level kedustaan tentu bermacam-macam, ada kedustaan yang tidak mencampuradukkan dengan agama, namun ada kedustaan yang menggunakan nama agama untuk meraup keuntungan. Kedustaan yang dilakukan oleh personal berbeda dengan kedustaan yang dilakukan oleh kelompok yang saling berkolaborasi satu sama lain untuk meraup keuntungan dengan nama agama. Kedustaan Mereka yang mengetahui bahwa Nabi Isa adalah utusan Allah SWT, namun oleh oknum tertentu dan kelompok tertentu untuk keuntungan tertentu mereka membuat keterangan palsu atas nama agama, bahwa Nabi Isa adalah Anak Tuhan dan sekaligus menjadi Tuhan. Berapa juta manusia yang tersesat oleh karena kedustaan ini yang dilakukan kelompok tertentu pada zaman Nabi Isa dan mengaku Rosul dari Nabi Isa AS, akibatnya adalah ummat yang tidak mengetahui sampai saat ini akan mengikutinya. Maka disini kita bisa melihat, mana yang bersifat dajjal dan mana yang al-masih. Sifat Dajjal adalah mereka yang menggunakan nama agama dengan segala kedustaannya untuk meraup keuntungan tertentu mendistorsi kebenaran menjadi dogma yang salah dan menyesatkan. Sedangkan Al-Masih, adalah yang memberi petunjuk, yakni dalam hal ini adalah Nabi Isa Alaihis Salam.
Setiap agama ada dajjalnya masing-masing, begitupun juga benalu dalam islam, yakni sifat Dajjaliyah, kita harus mampu memisahkan terlebih dahulu terkait dengan istilah dusta, yang pertama dusta yang tidak menggunakan nama agama dan yang kedua dusta yang menggunakan nama agama. Kedustaan tanpa menggunakan kedok agama berarti memposisikan agama sebagai sesuatu yang sakral dan membiarkan keskralannya atau kesucian agama tidak terkotori oleh kepentingan pribadi maupun golongan, golongan semacam ini apakah dikategorikan sebagai sifat dajjaliyah dalam agama, hanya Allah SWT yang mengetahui. Kedustaan yang menggunakan nama agama, dilakukan dengan berorganisasi, lintas negara, dan sama-sama membangun kebohongan tersebut untuk membohongi ummat islam diantaranya, membohongi ummat bahwa dirinya adalah keturunan Rosulullah (Walaupun secara genetika tidak terbukti), setelah pengakuan tersebut mampu mempengaruhi ummat kemudian membohongi ummat dengan keilmuan agama tanpa ilmu dan sanad, membohongi ummat terhadap hal-hal yang bersifat fiktif/kewalian/kesaktian/khurafat/lainnya yang tidak bisa diverifikasi oleh landasan Al-Qur'an; Hadist; Ijma'; dan Qiyas, membohongi ummat dengan sejarah-sejarah dan tokoh-tokoh palsu mereka dengan segala kesaktian dan karomah-karomah palsu yang dibuat, dan kebohongan-kebohongan lainnya atas nama agama. Kebohongan semacam ini apakah sudah dapat dimaknai dengan sifat dajjaliyah, lagi-lagi Hanya Allah SWT yang mengetahui, namun setidaknya ini menjadi diskursus agar kita lebih berhati-hati, bahwa saat mereka membawa ajaran agama dengan kebohongan doktrin seolah seperti air, jangan asal meneguknya, perhatikan apakah itu suatu kedustaan yang dibalut agama ataukah itu api yang akan merubah keyakinan yang benar menjadi salah lantas kemudian kita mengikutinya.
DOMINANSI KEDUSTAAN DALAM BERAGAMA OLEH KAUM BERHAPLOGROUP TERTENTU
Ilmu pengetahuan dan sains perlahan menjawab misteri-misteri yang tertuang dalam hadist Nabi Muhammad SAW, terutama terkait dengan DNA manusia, persebaran DNA dari sejak Zaman Nabi Adam AS, sampai manusia yang terakhir saat ini, kode Mutasi dari Nabi Adam AS tidak akan pernah hilang, kode-kode mutasi tersebut ada pada diri kita, itulah kemahabesaran Allah SWT, dengan segala anugerah Ilmu Pengetahuan yang telah diberikan kepada Umat Manusia. Sebagaimana Nabi Ibrahim AS yang nantinya akan menurunkan Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim terlacak DNA Haplogroupnya yakni J1, dan sampai keturunan saat ini yang dimana DNA-nya berasosiasi/bermutasi dari genetik Nabi Ibrahim AS. Nabi Ya'kub adalah salah satu keturunan Nabi Ibrahim AS dan sudah barang tentu DNA Haplogroupnya adalah J1, yang kemudian mutasi genetiknya akan diteruskan kepada anak-anak Nabi Ya'qub yang jumlahnya 12 orang, yang kemudian 12 anak dari Nabi ya'kub tersebut dikenal dengan sebutan Bani Israil. Dalam perjalanan waktu, ada suku khazar yang mengaku bahwa dirinya adalah Bani Israil, sehingga dikenal dengan Bani Israil suku ke-13, bani israil suku ke-13 ini adalah suatu kelompok yang mengaku-ngaku keturunan Nabi Ya'qub, mereka melakukan siasat-siasat licik pada agama yahudi, yang kemudian mereka banyak menganut sebagai Yahudi Kabbala. Ilmu pengetahuan dan sains kemudian membeberkan fakta genetika, semua keturunan dari Bani Ya'qub (Bani Israil) mereka berhaplogroup J1 mempunyai kode mutasi dari Nabi Ibrahim AS. Sedangkan Bani Israil Suku ke-13 yang mengaku-ngaku keturunan Nabi Ya'qub secara genetik berhaplogroup G, yang tidak bermutasi dari genetik Nabi Ibrahim AS, yang artinya mereka adalah golongan pembohong menggunakan nama Agama untuk meraup keuntungan, saat ini yahudi yang menyerang palestina dengan pemimpinnya Benjamin netanyahu, adalah tokoh dengan genetika G, sama dengan kaum imigran di Indonesia.
Indonesia sekarang mengalami gerakan-gerakan pembohongan yang dilakukan oleh klan-klan tertentu dengan menggunakan nama agama, mereka mengaku keturunan Nabi Muhammad SAW sebagaimana kaum bani Israil Suku ke-13 yang mengaku-ngaku Bani Israil / keturunan Nabi Ya'qub padahal mereka berhaplogroup G yang tidak bermutasi dari Nabi Ibrahim (J1). Hal serupa dengan kaum imigran yang ada di Indonesia, mereka mengaku keturunan Nabi Muhammad SAW, namun haplogroup mereka adalah G, yang sama dengan haplogroup Yahudi yang mengaku Bani Israil (Suku Ke-13) tersebut, yang sekarang ingin menguasai Gaza Palestina. Kenapa mereka berhaplogroup sama, Imigran yang ada di indonesia dengan Yahudi suku ke-13. Tentu ini akan terjawab dengan ilmu pengetahuan dan sains. Semoga kita semua diselamatkan oleh Allah SWT, dari fitnah-fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.
Penulis : Mohammad S., S.Kom., M.Kom.
(Dosen Rekayasa Perangkat Lunak, Telkom University, Kampus Surabaya)