Ajaran klan Baalawi sering kali menjadi sorotan dalam diskusi keagamaan di kalangan umat Islam. Salah satu kritik utama yang diajukan adalah terkait dengan penyimpangan ajaran yang dianggap melampaui batas syariat Islam dan mencampurkan unsur-unsur yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Kritik ini terutama ditujukan pada keyakinan mereka yang cenderung mengultuskan figur tertentu, terutama para wali dari keturunan Baalawi, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
Salah satu poin penting dalam kritik terhadap klan Baalawi adalah pandangan mereka tentang keutamaan ziarah ke makam wali tertentu. Dalam kitab Misbahul Anam, disebutkan bahwa duduk sejenak di hadapan seorang wali, baik yang hidup maupun telah wafat, dianggap lebih utama dibandingkan dengan ibadah selama 70 tahun. Pernyataan ini didasarkan pada kisah-kisah mimpi yang diklaim melibatkan Nabi Muhammad SAW, di mana beliau disebut-sebut memberikan panduan tentang keutamaan tersebut.
Kritik muncul karena:
Ajaran klan Baalawi juga sering mengandalkan mimpi sebagai landasan keilmuan. Dalam teks yang diulas, disebutkan bahwa mimpi-mimpi ini dijadikan rujukan untuk memproduksi hadis baru yang tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis otoritatif. Misalnya, dalam Misbahul Anam, terdapat hadis mimpi yang menyebutkan bahwa “ziarah ke makam wali lebih baik daripada ibadah 70 tahun.”
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar:
Salah satu kutipan dari anak Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab menyatakan bahwa ia menyarankan umat untuk mengunjungi makamnya setelah ia wafat. Ia mengklaim bahwa ziarah ke makamnya akan membantu mengabulkan segala hajat, baik ketika ia masih hidup maupun setelah wafat. Sikap ini dikritik sebagai bentuk kesombongan spiritual yang bertentangan dengan prinsip kehambaan dalam Islam.
Keyakinan bahwa makam wali memiliki kekuatan untuk mengabulkan doa atau memberikan manfaat langsung dinilai dapat merusak akidah umat. Praktik ini juga disebut-sebut menyerupai tradisi kaum Syiah Imamiyah yang menjadikan makam tertentu sebagai pusat spiritual yang lebih tinggi dibandingkan tempat suci seperti Makkah dan Madinah.
Beberapa tokoh eksternal yang disebut-sebut mendukung ajaran ini, seperti Syekh Yusuf bin Ismail Annabhani, dianggap telah “diperdaya” dengan klaim-klaim kekeramatan Baalawi tanpa melakukan verifikasi yang memadai terhadap karya-karya mereka. Hal ini memperkuat narasi klan Baalawi dalam menciptakan legitimasi historis atas ajaran mereka.
Kritik terhadap ajaran klan Baalawi terutama berkisar pada pengultusan wali, penyandaran ajaran pada mimpi, dan klaim kesombongan spiritual yang bertentangan dengan ajaran Islam yang murni. Umat Islam diharapkan lebih berhati-hati dan kritis dalam menerima ajaran yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam Al-Qur’an dan hadis. Dengan demikian, keimanan yang bersih dari penyimpangan dapat terjaga.