Kontak-

081332260957, 081234717779, 082231448444

PWILS GRESIK

Masyarakat Sampaikan Penolakan Rencana Acara Sholawat di PT. Metatu Nusantara Jaya

Image
Istimewa

Gresik - Rencana pelaksanaan acara “Metatu Bersholawat” dalam rangka 11 tahun PT. Metatu Nusantara Jaya yang dijadwalkan pada Senin, 1 Juni 2026, mendapat perhatian dari sejumlah elemen masyarakat. Keberatan tersebut bukan ditujukan kepada tradisi sholawat sebagai bentuk kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW, melainkan terhadap kehadiran panggung-panggung publik yang dinilai perlu lebih sensitif terhadap persoalan sejarah, kebudayaan, dan peninggalan arkeologi Nusantara.

Sejumlah pihak menyampaikan bahwa dalam beberapa waktu terakhir muncul keresahan terkait dugaan manipulasi sejarah dan peninggalan arkeologi oleh oknum-oknum tertentu yang mengatasnamakan garis keturunan Nabi Muhammad. Keresahan ini semakin kuat karena menurut mereka belum ada permintaan maaf terbuka atau klarifikasi yang memadai kepada masyarakat, khususnya kepada masyarakat Pribumi Nusantara yang merasa warisan sejarahnya telah diperlakukan secara tidak semestinya.

PT. Metatu Nusantara Jaya sebagai penyelenggara kegiatan diharapkan memahami bahwa acara keagamaan yang melibatkan tokoh publik sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan aspek seremonial, tetapi juga memperhatikan sensitivitas sosial dan kultural masyarakat tetapi bagaimana Republik Indonesia ini dibangun. Dalam konteks ini, perusahaan diharapkan mampu membaca kegelisahan publik terkait fenomena pengubahan narasi sejarah dan arkeologi oleh oknum-oknum yang dinilai telah menggunakan label keagamaan untuk memperoleh legitimasi sosial.

Salah satu poin keberatan yang disampaikan masyarakat berkaitan dengan dugaan manipulasi nama-nama nisan di kompleks pemakaman Sunan Bonang. Bagi masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap sejarah Nusantara, makam para wali dan situs-situs peninggalan Islam Jawa bukan hanya tempat ziarah, tetapi juga bagian dari identitas peradaban bangsa. Karena itu, setiap perubahan, penafsiran, atau klaim terhadap situs tersebut harus dilakukan secara hati-hati, terbuka, ilmiah, dan menghormati masyarakat pemilik warisan budaya.

Keresahan serupa juga muncul terkait kompleks pemakaman Sunan Muria. Masyarakat menilai bahwa setiap dugaan manipulasi terhadap situs sejarah para wali harus mendapat perhatian serius dari semua pihak, termasuk pemerintah, akademisi, budayawan, tokoh agama, dan penyelenggara kegiatan keagamaan. Apabila memang terdapat kekeliruan atau tindakan yang tidak menghormati sejarah bangsa, maka permintaan maaf, klarifikasi, dan pemulihan narasi sejarah menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan publik. Manipulasi arkeologi ini tidak menutup kemungkinan terjadi di berbagai wilayah di seluruh Indonesia sehingga perlu serius dalam menjaga situs-situs sejarah.

Selain persoalan arkeologi, masyarakat juga menyoroti penggunaan label “keturunan Nabi” yang dalam praktik sosial sering membuat sebagian umat menjadi terlalu permisif terhadap tokoh tertentu. Padahal, penghormatan terhadap siapa pun tidak boleh menghilangkan sikap kritis, terutama jika menyangkut kebenaran sejarah, martabat bangsa, dan kelestarian peninggalan peradaban Nusantara. Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW seharusnya diwujudkan melalui akhlak, kejujuran, penghormatan terhadap ilmu, serta tanggung jawab menjaga kebenaran.

 

Atas dasar itu, penolakan atau permintaan peninjauan ulang terhadap acara tersebut perlu dipahami sebagai bentuk kepedulian terhadap sejarah dan peradaban bangsa, bukan sebagai kebencian terhadap tradisi sholawat maupun kelompok tertentu. Masyarakat berharap PT. Metatu Nusantara Jaya dapat membuka ruang dialog, mendengar aspirasi publik, dan memastikan bahwa kegiatan keagamaan tidak menjadi ruang bagi penguatan narasi yang berpotensi mengaburkan sejarah Nusantara. Sikap kritis ini merupakan bagian dari upaya menjaga marwah bangsa, menghormati para leluhur, serta memastikan bahwa generasi mendatang mewarisi sejarah yang jujur, adil, dan bermartabat.